baby

Art Jog 2011

Ingin alternatif tempat hiburan di Jogja? Kenapa tidak mencari pameran seni atau event seni? Di bulan Juni hingga Juli banyak sekali ditemukan acara-acara berbasis seni, mulai dari FKY (Festival Kesenian Yogyakarta), Jogja Java Carnival, Jogjakarta Gamelan Festival, Jogja Broadway hingga Art Jog–yang digadang-gadang sebagai pameran seni terbesar. Beberapa hari yang lalu, saya baru saja sempat … Continue reading

Sudah Dua Tahun

Twit pertama gue dua tahun yang lalu pasti cuma “Hallo…” atau “Masih bingung mainan twitter nih..” Hahahaha

Tepat dua tahun lalu, di tanggal ini: 3 Juli 2009; saya membuat akun Twitter dengan nama @pramoeaga. Saya tak begitu ingat siapa yang mengajak atau bahkan mungkin saya tahu dari siapa ada jejaring sosial bergambar burung biru ini, yang jelas sekarang saya harus mengucapkan banyak terima kasih kepadanya. Ya, kepada Twitter. Lebay? Tunggu dulu, saya punya alasan. Bersiap mendengarkan? Mari..

Berbeda dengan dua jejaring sosial yang dulu pernah saya jajahi (Friendster dan Facebook),Twitter saya rasakan lebih bersifat personal dan lebih apa adanya, meskipun beberapa teman masih akrab dengan pencitraan. Dibilang lebih apa adanya karena di Twitter, kita dinilai dan disukai oleh orang karena tulisan (baca : twit) bukan sekedar tampang atau sesuatu yang berhubungan dengan fisik. Dua jejaring sosial sebelumnya menyediakan album foto yang bisa menampung ratusan foto narsis. Dan semakin narsis dan keren profile picture kita, makin banyak orang yang ingin menjadi teman kita, kan? 😀 Oke, di twitter memang kita bisa share foto dan memakai avatar paling ganteng untuk dipajang. Tapi yakin deh, itu tidak berpengaruh pada jumlah follower. Itulah bedanya Twitter dari Friendster dan Facebook.

Lalu, kenapa saya musti berterima kasih pada Twitter? Begini, walaupun sudah sering menulis di blog friendster dan note facebook; tapi gairah menulis dan membaca saya dapatkan ketika mulai terjun bebas di twitterland. Di sana, banyak ditemui berbagai macam teman yang sangat mengagumkan. Penulis-penulis masa depan yang luar biasa. Berkecimpung di fiksimini adalah awal saya menemukan mereka. Karena merekalah saya membuat blog, aktif menulis, mulai menyukai sastra, belajar berpuisi dan tahu segala sesuatu yang sebelumnya tak pernah saya dapatkan dari jejaring sosial lain. Dulu, saya pikir bermain di jejaring sosial adalah sesuatu yang bersifat hura-hura. Ternyata, tak selamanya seperti itu yang saya dapatkan di Twitter. Selain persahabatan, juga ada banyak pelajaran dari sana.  So, i have to say thank you to Twitter for that 😉

ps : jangan lupa follow saya ya di @pramoeaga 😛

Boys Don’t Cry (?)

Ada MENANG di dalam MENANGis. Jadi, menangislah..”

 

Ada masalah apa dengan pria yang menangis?  Seharusnya tak ada. Tuhan menciptakan air mata tentu bukan hanya untuk kaum hawa saja, kan? Dan kalaupun pria kebagian air mata, tentunya bukan hanya berfungsi sebagai media membersihkan mata dari kotoran yang masuk atau menempel. Fungsinya sama dengan air mata kepunyaan perempuan, bisa langsung connect ke perasaan. Mellow? Lihat dulu kasusnya..

 

Pria tentu punya alasan kuat untuk mengeluarkan airmata. Ya, sebagai pria,  kami tidak perlu mengeluarkan airmata untuk hal-hal cemen yang sebenarnya memang bukan untuk ditangisi. Nonton telenovela, misalnya. Contoh yang aneh sebenarnya. Tapi memang para pria hanya mengeluarkan airmata untuk hal-hal ‘spesial’ saja. Ukuran spesial tiap pria mungkin beda, ya.

 

Lalu, kenapa ada anggapan kalau pria menangis itu gak macho, atau berhubungan dengan hal-hal lemah lainnya? Mungkin stereotype yang berkembang di masyarakat , pria adalah pelindung dan kuat di bandingkan dengan wanita. Bagaimana bisa sebagai pelindung, dia malah ikut-ikutan mewek? kalau hal ini sampai terjadi, saya yakin pasti malah akan membuat perempuan di sampingnya berhenti menangis karena merasa aneh (atau kocak?)

 

Pernahkah saya menangis? Tentu pernah. Terlepas dari menangis saat bayi, saya pernah menangis saat bertengkar dan menyakiti hati ibu saya. Saat itu, saya menangis sambil mengendarai motor saya keluar rumah setelah bertengkar. Saya menangis karena sungguh menyesal. Sebagai pria yang susah menangis ( Ya, saya memang susah mengeluarkan air mata–entah ada apa pada sistem lakrimasi pada mata saya. ), mengucurkan air mata dengan derasnya ketika saya menyesali perbuatan terhadap ibu itu sungguh melegakan. Ada perasaan plong yang membuat saya memaafkan kekhilafan saya sebelum akhirnya meminta maaf kepada ibu saya.

 

Dari kejadian itu, saya bisa berfikir bahwa menangis ternyata melegakan (setidaknya ‘penemuan’ ini bisa dijadikan modal untuk tahu alasan perempuan kenapa sering menangis :P) Ya, karena menangis adalah masalah emosi dan emosi tentu bersinggungan dengan perasaan. Semua orang–pria atau wanita punya itu. Dan yang bisa disimpulkan adalah, semua boleh menangis. Masalah hal-hal apa yang pantas atau tidaknya ditangisi oleh pria, biarlah kami–kaum adam yang tahu. Hehe.. 😛

 

OKe kok, walau tanpa rokOK

“Orang yang merokok karena pengen dianggap keren itu sesungguhnya adalah tidak keren”

Hari ini (31 Mei) diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Internasional atau World No Tabacco Day . Sepenting itukah bahaya dari tembakau (baca : rokok) hingga perlu satu hari untuk memperingati dan mengkampayekan ke seluruh dunia agar sadar bahayanya? Saya pernah membaca di sebuah blog, bahwa tembakau telah membunuh 100 juta orang pada abad ke-20 dan pada abad ke-21 naik menjadi 1 milyard orang. Malah, tahun ini 600 orang di seluruh dunia  meninggal karena berprofesi sebagai perokok pasif.

Semakin banyak perokok disebabkan gaya hidup yang semakin absurd. Ga merokok, ga keren. Entah dari mana muncul tagline seperti itu. Yang jelas, di kalangan ABG bau kencur muda, ucapan itu acap kali terlontar ketika salah satu teman mereka tak mau menghisap rokok yang ditawarkan. Alih-alih merasa tak enak hati dengan teman, alasan setia kawan dan sebagainya, akhirnya membuat mereka–yang tadinya menolak, menghabiskan berbatang-batang rokok juga. itulah awal. dan dari awal itu, saya yakin, akan tumbuh berpuluh-puluh bahkan ratusan perokok baru.

Semasa SMP dulu, saya juga pernah ada di posisi seperti itu. Ditawari rokok oleh teman sekelas, dan untungnya saya menolak. Kalimat “Ga keren, lo” atau “Banci ah, ga ngerokok” biasanya mengiringi penolakan. Dan saya sama sekali tak tertarik menyentuhnya. Jadi, lo ga pernah ngerokok, Mu? Pernah, sih..waktu SMA. Bukan karena diajak, ditawari atau dibujuk. Murni inisiatif sendiri. Ya. Akibat jiwa galau dan blo’on masih kental (emang sekarang udah cair? :P) maka ketika saya merasakan putus cinta dan merasa sangat stres (hah!!) akhirnya saya memutuskan membeli sebungkus rokok menthol di supermarket. Ga tanggung-tanggung kan, sebungkus lho, bukan ngecer. Hehe… lalu, kenapa sekarang saya bukan perokok? Karena saya tidak menikmatinya. Entah apa yang ada di benak saya ketika asap rokok itu keluar dari hidung dan mulut, tapi rasanya saya sungguh tidak menikmati. Plus, mulut yang pahit dan bau mulut yang tidak enak. Ya, alasan-alasan itu sudah cukup untuk membuat saya tidak menjadi sahabat baik rokok–selain alasan kesehatan, tentu saja.

Lalu, apa yang terjadi pada pergaulan saya? Tidak bermasalah sama sekali. Menurut saya, selama kita punya prinsip kuat, teman-teman di sekeliling juga pasti akan menghormati. Semakin dewasa pertemanan, kalimat-kalimat yang menganggap tidak merokok itu tidak keren lambat laun menguap. Keren atau tidak itu bukan karena merokok. Bukankah lebih keren jika badan sehat?

Sehat itu anugerah.  Dan saya merasa sehat dengan tidak merokok, walaupun saya berteman dengan mereka yang aktif merokok. Terganggu? Tergantung. Kalau kita berada di mayoritas perokok, cari bangku yang agak jauh. Atau minimal asap rokok tidak mengarah langsung ke hidung. Kalau hanya 1 atau 2 saja teman yang merokok, saya akan minta mereka agak menjauh dengan perokok pasif. Sebenarnya lebih pada saling menghormati saja. Sama-sama enak.

Jadi, apapun keputusan kalian untuk merokok atau tidak, itu kembali pada masing-masing. Yang penting sih, tahu apa yang dilakukan. Urusan keren, yakinlah itu bukan urusan merokok atau tidak 🙂

Me (alone) Time

“Sendiri tidak selalu salah. Yang salah adalah menyalahkan diri sendiri..”

Malam ini saya memutuskan untuk menonton film di bioskop. Sendiri. Ya, sendiri. Ada yang aneh dengan menonton bioskop sendirian? Bagi sebagian orang mungkin jawabannya adalah “YA”. Tegas tanpa ragu-ragu. Apalagi kalau tahu film yang saya pilih adalah film drama romantis No String Attached. Silahkan menertawakan saya, tapi saya memang sudah merencanakan nonton film yang dibintangi Natalie Portman dan Asthon Kutcher itu beberapa hari lalu bersama pacar. So, kenapa malam ini saya nonton sendiri? Ada ceritanya. Yang jelas, siang tadi kami tertengkar hingga kami memutuskan untuk (..putus? –hey, damn you!!) stop komunikasi sampai waktu yang ditentukan. Kapan? Eiitss, wontunooo aja 😛

Jadilah malam ini saya mengarahkan Bella (Ya, itu nama motor saya. Ada masalah?) ke XXI. Tak perlu menimbang-nimbang lagi pilihan film saya, karena saya pikir film action sudah saya tonton kemarin bareng pacar, so it’s time to drama. Yeah!! Dengan percaya diri saya melangkah ke loket dan mantap menjawab “SATU” ketika ditanya oleh petugas tiket “Untuk berapa orang?” (mungkin saya terlihat aneh atau apalah, tapi yang jelas saya akan jambak rambuk mbak tiket itu kalau sampai tertawa). ‘Keganjilan’ tak sampai di sini saja, karena ternyata mental saya masih saja di uji hingga di dalam bioskop. Ya. Dalam studio 6 tempat film itu di putar, hanya ada saya yang menonton tanpa membawa pasangan! Hmm, baiklah. Detilnya seperti ini : ada 7 pasangan kekasih, dan 3 orang yang terdiri dari 2 laki-laki dan 1 perempuan. Saya tidak tahu apa keadaan saya yang sendiri ini lebih tampak menyedihkan atau malah menguntungkan dibanding dengan salah satu dari laki-laki yang entah sedang mengantar temannya pacaran di bioskop. Entah. Hanya Tuhan yang tahu (tiba-tiba mewek).

‘Penderitaan’ saya tak cukup sampai di situ. Jalan cerita film yang romantis seharusnya memang lebih manis jika ditonton bareng sang kekasih sembari menggenggam tangannya. Tapi saya? Alih-alih menggenggam tangan pacar, saya pun meremas blackberry. Dem! Sejalan dengan film yang terus berputar, pikiran saya terbagi antara memikirkan pacar (ya! adegan film drama selalu mengingatkan kita pada pacar, meskipun sedang bertengkar) dan mengikuti jalan cerita film.

Sembilan puluh menit kemudian, film usai. Film romantis yang manis dan happy ending itu–jujur–tidak bisa dinikmati dengan perasaan seperti ini, ternyata. Menyesal menonton  film romantis sendirian? Saya berani jawab “tidak” dengan tegas. Kalau saya memaksakan menonton bareng pacar pun, film ini tak akan terasa romantisnya. Mungkin lebih buruk, karena kami sedang saling cemberut. Jadi saya pikir, di luar perasaan saya yang sedang gado-gado, menonton film ini sendiri adalah pilihan terbaik. Dan kalau ada pertanyaan ‘Apa saya terhibur dengan pilihan film itu?’ Saya bisa jawab ‘IYA’ karena film romantis tentunya bisa membuat kita bersemangat memperbaiki hubungan dengan pacar yang sedang tidak bagus (ya, saya juga tentunya pengen happy ending seperti film tadi, dong)

Yang jelas, tak ada yang salah dengan menonton film (apapun) sendirian. Tak perlu malu, karena dalam keadaan galau, kita yang paling tahu apa yang kita mau. Pun, obat manjur apa yang bisa cepat menyembuhkannya 🙂 Asal jangan keseringan aja.. 😛

Goresan Mereka

>

Berawal dari “hadiah” ulang tahun dari teman-teman yang jago gambar, saya jadi keranjingan untuk mengumpulkan gambar wajah saya dari berbagai teman. Rata-rata mengenal mereka dari akun fiksimini, beberapa dari teman twitter murni. Sedikit memaksa-menjambak dan menabok ( 2 terakhir fiktif 😛 ) akhirnya saya berhasil mendapatkan berbagai macam ekspresi gambar dari temen-temen. Silahkan menikmati kelincahan tangan mereka:

1. Gambar dari @arco_kimzy

2. Hasil memaksa @nuelohnuel

3. Goresan @therendra

4. Spesial dari Uni @harigelita

5. Coretan lucu dari asakecil

6. Dua karya grafis ini dari @herry_sis dan @Hijrahheiji

Keren-keren ya goresan mereka? hihihihi.. dan bagi siapapun yang membaca blog ini dan mengaku suka gambar saya memaksa kalian untuk membuatkan hal yang sama! Imbalannya? Saya follow deeehhhh…. #ditoyormassa 😀

>Pesta Blogger Jogja 2010

>

Pada tanggal 8-9 Oktober kemarin di Jogja diadakan sebuah acara yang dikhususkan untuk para blogger dan onliner. Acara yang dibadrol Pesta Blogge Jogja 2010 ( PB Jogja ) ini salah satu rangkaian dari perhelatan nasional Pesta Blogger yang diadakan pada 30 Oktober.Tema yang diusung dalam PB kal ini adalah Merayakan Keragaman, dan bisa dipastikan banyak sekali komunitas onliner yang bergabung ( termasuk Fiksimini ) selain komunitas blogger itu sendiri.

Salah satu rangkaian acara yang diusung oleh PB ogja adalah rally selama 2 hari. Saya dan indra ( @b7ru ) mendapatkan kesempatan di hari pertama, sedangkan juris ( @juris_the_great ) dan Aiz ( @aizpangeran ) berkesempatan di hari kedua.

Hari pertama Rally PB dimulai dengan berwisata kuliner di Joglo Melati, sebuah restoran yang mengusung tema tradisional jawa, Jogjakarta khususnya sebagai andalan menu dan juga desainnya. Tempat yang nyaman dan makanan yang lezat dikombinasikan dengan harga yang terjangkau dipilih mereka untuk menjangkau pasar luas. Selepas makan siang, perjalanan dilanjutkan ke ndalem Yudonegaran. Kami berdua disana mengikuti kelas yang disediakan oleh panitia. Kelas itu adalah : Kelas menari Jawa dan belajar musik gamelan. Whatta great experiences!! 😀 Pelajaran yang bisa diambil dari kelas-kelas itu adalah : telaten, sabar dan ternyata membanggakan ketika kita bisa mengenal dan mempelajari budaya tradisional secara langsung. Dari nDalem Yudonegaran, perjalanan Rally PB pindah ke daerah Puro Pakualaman. Disana, kembali kami disuguhkan kelas tradisional : kelas memanah. Bukan dengan panah modern, disana kami belajar memanah dengan cara tradisional. Lagi-lagi pelajaran baru didapat! senangnya…

Menjelang petang, bus yang kami tumpagi harus kembali ke Gelanggang UGM dengan membawa banyak pegalaman, pelajaran dan juga teman-teman baru. rangkaian Rally PB hari pertama usain selanjutnya akan dilanjutkan esok hari. kal ini Juris dan Aiz yang beruntung mengikuti kelas fesyen di Centro, kelas barista di Kedai Kopi, ke desa wisata di daerah Bantul dan kelas bikin kaos.






Rangkaian PB Jogja 2010 ditutup dengan diadakannya gathering pada 9 Oktober di Purna Budaya. Semua komunitas blogger, juga onliner bergabung untuk merayakan keragaman. Berbeda itu indah, beragam itu kaya.


Sampai jumpa di Pesta Blogger 2011….!!! 😀

Mencari Sosok Pahlawan

Sedari kecil, kita sudah tahu kalau tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Mungkin dulu, kita hanya menganggap Hari Pahlawan sebagai hari dimana kita mengenang jasa-jasa pahlawan bangsa yang gugur dalam medan perang. That’s it. Sekarang? Apakah hanya itu? Mengingat pola pikir kita yang semakin luas dan kritis. Saya rasa jawabannya harus TIDAK.

Mundur sedikit, coba kita artikan dulu arti pahlawan. Secara sederhana, pahlawan diambil dari kata dasar pahala. Jadi bisa diartikan orang yang berpahala. Maksud berpahala di sini, karena dia melakukan hal-hal yang baik. Sedangkan kalau kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:812), yang disebut pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Beda lagi dengan apa yang dikatakan filsuf  zaman dulu. Mereka mengatakan bahwa pahlawan adalah seseorang yang mampu menggugah hati banyak orang…

Tanpa mengecilkan arti, saya akan mengabaikan arti pahlawan versi KBBI. Saya ingin membahas pandangan dari para filsuf. Seperti yang sudah ditulis, pahlawan versi filsuf itu adalah orang yang mampu menggugah hati banyak orang. Siapakah dia? Kita tak perlu bingung mencari sosok pahlawan versi filsuf. Sejauh mata memandang, mungkin kita bisa menangkap beberapa contoh nyatanya. Coba baca koran hari ini, atau nyalakan TV. Contoh yang lebih mudah, buka Twitter atau media online. Kita bisa temukan satu contoh sosok pahlawan: sukarelawan.

Bencana yang terjadi secara berurutan di beberapa bagian di Indonesia sontak membuat sebagian masyarakat di daerah itu lumpuh. Bencana di Wasior, Mentawai, Jogja tentunya menyentuh hati banyak orang. Namun hanya beberapa yang dengan sukarela dan ikhlas menyerahkan sebagian besar waktu dan tenaga untuk membantu. Mereka, sukarelawan. Perlu jiwa yang tangguh dan nyali yang besar untuk menjadi sukarelawan. Terkadang, penyakit dan maut juga ikut mengintai. Mereka — kalau kita kaitkan dengan kata-kata fisuf — juga bisa dikategorikan pahlawan.

Dulu, para bijak pernah berkata, “Tidak semua zaman melahirkan pahlawan.” Tapi tentu kita bisa bertransformasi, berevolusi — atau apalah namanya –menjadi pahlawan. Minimal untuk diri kita. Selfish? Tidak! Musuh utama kita adalah diri kita sendiri. Taklukan musuh dalam diri kita sendiri dengan semangat pahlawan yang juga dari diri kita. Lakukan yang terbaik untuk diri kita, sebelum sebarkan ke orang lain. Karena hal besar itu terjadi karena adanya hal kecil.

Masih Beranikah Bersumpah, Pemuda?

Sumpah Pemuda, sebuah gebrakan dahsyat yang dicanangkan oleh generasi muda kala itu. Mereka berani mengambil 3 sumpah yang mereka yakini akan mempererat persatuan bangsa.

Berpuluh-puluh tahun kemudian-saat ini, masih beranikah kita melakukan hal yang sama? Bersumpah atas tanah air, bangsa dan bahasa yang satu : Indonesia? Perlu direnungkan kembali pertanyaan tadi. Buat saya pribadi, Anda dan siapa pun yang membaca. Sumpah itu bukan sumpah biasa, apalagi sumpah serapah. Sumpah yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 itu adalah bentuk tanggung jawab generasi muda. Bukti bahwa sebagai kaum muda mereka juga punya rasa memiliki atas bangsa ini, menyadari bahwa Indonesia kaya perbedaan dan berusaha mempersatukannya melalui Sumpah Pemuda.

Perbedaan, itu yang mendasari adanya Sumpah Pemuda. Berbeda itu indah, sama itu membosankan. Tak perlu takut. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, yang terdiri dari beragam suku, budaya, bahasa dan keragaman yang lain. Jadi mengapa takut untuk menjadi beda? Kita tak perlu menjadi orang lain untuk bisa diterima. Tak perlu pula menjadi suku tertentu atau menguasai bahasa khusus untuk menjadi bagian dari pemuda Indonesia. Cukup 1 pemersatu : indONEsia.

Kini, 82 tahun umur Sumpah Pemuda. Harusnya kita sudah bisa merayakan perbedaan, bukan lagi mempermasalahkannya. Karena beda itu yang membuat kita kaya, membuat kita semakin tahu dan mengajari kita untuk menghargai. Pemuda, mari kita berantas musuh kita : penjajah atas perbedaan. Saya bisa, kita semua bisa!

KESAKTIAN PANCASILA : Masih, Sudah atau Pudar?

Kesaktian Pancasila yang dirayakan oleh bangsa Indonesia setiap tanggal 1 Oktober kini dirasa telah hilang maknanya.

Dulu, kita memperingati Kesaktian Pancasila sebagai bentuk penghargaan bahwa Pancasila sebagai dasar negara, posisinya tak tergantikan. Hal ini telah teruji oleh peristiwa berdarah G30S/PKI.

Bicara mengenai kata “sakti”, mungkin di era serba digital ini kesaktian Pancasila sudah memudar. Efeknya sangat lemah dirasa. Hal-hal sepele yang mungkin harusnya kita kuasai, terlupakan. Contoh? Banyak. Lihat sekeliling, cobalah bertanya sila-sila dalam Pancasila. Sedikit orang yang bisa menjawab lancar dan benar. Ironis? Sangat. Pun, ketika ditanya soal lambang padi dan kapas mewakili sila keberapa, misalnya. Jawaban senyum bingung banyak mendominasi.

Kalau kita mau menelusuri dan mempelajari, tiap isi dari sila Pancasila memiliki makna yang sangat dalam — kalau kita benar-benar menghayati. Mungkin saya akan bantu me-refresh sila-sila Pancasila untuk memudahkan kita mengingatnya :
1. Ketuhanan yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Makna yang terkandung dari sila-sila tersebut sangat bertolak belakang dengan kejadian dan peristiwa yang terjadi belakangan. Isu SARA yang kembali merebak, pemaksaan kehendak oleh oknum-oknum tertentu, dan masih banyak contoh lain yang menghiasi headline koran. Saya merasa malas untuk membahas penyimpangan terhadap sila-sila Pancasila karena saya punya 2 alasan : Pertama, saya masih perlu diingatkan juga dan kedua, saya tak ingin kolom ini penuh dengan tulisan keprihatinan tanpa efek nyata. Biarlah contoh-contoh kecil tadi dan sejumput ulasan saya menjadi bahan renungan kita.

Kalau boleh berandai-andai, saya ingin suatu saat nanti Pancasila akan meraih kembali kesaktiannya secara utuh. Layaknya si Labu Kuning yang tetap sakti diagung-agungkan tiap perhelatan Halloween di akhir Oktober.

Amin. :)